Palu, 30 Juli 2026 – Guru Besar Universitas Tadulako (UNTAD), Prof. Sriati Usman, menjadi penggerak utama program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang menyasar peningkatan kompetensi guru di SMA Negeri 2 Sigi melalui pelatihan dan pendampingan penerapan pendekatan Deep Learning dan model Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK). Kegiatan yang berlangsung Rabu, 29/7/2026 tersebut menjadi bagian dari Program PKM Skema Diseminasi Hasil Penelitian yang didanai melalui DIPA BLU UNTAD Tahun Anggaran 2026.
Sebagai ketua tim pengabdi, Prof. Sriati Usman tidak hanya mengoordinasikan pelaksanaan kegiatan, tetapi juga memberikan arah akademik terhadap penerapan Deep Learning dan TPACK dalam pembelajaran abad ke-21. Ia menempatkan penguatan kapasitas guru sebagai bagian penting dari upaya mendorong pembelajaran yang semakin berpusat pada peserta didik.
Menurut Prof. Sriati, perubahan karakteristik pendidikan abad ke-21 menuntut guru untuk terus mengembangkan kompetensi profesional, pedagogik, sosial, dan kepribadian. Pergeseran dari pembelajaran yang berpusat pada guru menuju pembelajaran yang berpusat pada peserta didik membutuhkan kemampuan guru dalam memilih pendekatan, teknologi, dan strategi pembelajaran yang sesuai.
Dalam kegiatan tersebut, Prof. Sriati bersama tim yang terdiri atas beberapa dosen dan dua mahasiswa, memberikan pelatihan sekaligus pendampingan kepada para guru. Pendekatan yang ditawarkan diarahkan agar teknologi tidak sekadar digunakan sebagai perangkat pembelajaran, tetapi terintegrasi dengan aspek pedagogik dan substansi materi.
Pelatihan diawali dengan pre-test untuk mengetahui pemahaman awal peserta mengenai Deep Learning dan TPACK. Tahapan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi, diskusi, serta kegiatan penyusunan modul ajar yang mengintegrasikan kedua pendekatan tersebut.
Prof. Sriati menekankan bahwa keberhasilan penerapan inovasi pembelajaran tidak cukup hanya melalui pemahaman konseptual. Guru perlu memperoleh kesempatan untuk mencoba, mendiskusikan, menyusun perangkat pembelajaran, dan memperoleh pendampingan sehingga pendekatan yang diperkenalkan dapat diterapkan secara nyata di kelas.
Salah satu bagian penting dari kegiatan tersebut adalah penyusunan modul ajar oleh peserta. Modul yang dihasilkan tidak berhenti sebagai produk pelatihan, tetapi direncanakan untuk diimplementasikan dalam proses pembelajaran dan selanjutnya dievaluasi melalui kegiatan monitoring pada 5 Agustus 2026.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti kegiatan. Sebanyak 13 guru memperoleh nilai sempurna pada post-test, sedangkan peserta lainnya memperoleh nilai pada rentang 80 hingga 95.
Meskipun menunjukkan hasil positif, tim pengabdi tetap menemukan sejumlah tantangan dalam penerapan pembelajaran berbasis teknologi di sekolah. Keterbatasan akses internet, infrastruktur teknologi yang belum merata, serta kebutuhan peningkatan literasi digital menjadi beberapa persoalan yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangan pembelajaran berbasis teknologi.
Oleh karena itu, Prof. Sriati menilai pendampingan berkelanjutan menjadi bagian penting dari proses transformasi pembelajaran. Guru membutuhkan dukungan tidak hanya pada tahap pengenalan konsep, tetapi juga ketika mengintegrasikan teknologi, pedagogi, dan materi pembelajaran dalam praktik di kelas.
Kepala SMA Negeri 2 Sigi, Ridwan, menyambut positif pelaksanaan program tersebut. Ia berharap kerja sama dengan UNTAD dapat terus dilanjutkan melalui berbagai program peningkatan kompetensi guru sehingga manfaat kegiatan tidak berhenti pada satu kali pelatihan. Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan peran Prof. Sriati Usman dan tim UNTAD dalam menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan nyata di sekolah. Melalui program diseminasi hasil penelitian, gagasan akademik diarahkan menjadi praktik yang dapat diterapkan oleh guru untuk memperkuat kualitas pembelajaran.
Bagi UNTAD, kegiatan tersebut menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan mutu pendidikan di daerah. Kehadiran Prof. Sriati sebagai penggerak kegiatan memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan sekolah sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih berkelanjutan dalam menghadapi tuntutan pembelajaran abad ke-21.

