Palu, 23 Juli 2026 – Universitas Tadulako (UNTAD) terus memperkuat implementasi Kampus Berdampak melalui pengembangan kemitraan dan program pembelajaran di luar program studi. Upaya tersebut salah satunya diwujudkan melalui Workshop Kemitraan dan Aktivitas Mobilitas Mahasiswa yang berlangsung selama dua hari, 21–22 Juli 2026, di Hotel Sutan Raja Palu.
Dalam kegiatan tersebut, Prof. Anang Wahid Muhammad Diah, M.Si., Ph.D., CIT, CIIQA, tampil sebagai salah satu narasumber dengan memberikan materi pada hari kedua. Ia membawakan materi bertajuk “Praktik Baik Pembelajaran Luar Kampus Universitas Tadulako” yang mengangkat pengalaman dan perkembangan program pembelajaran luar kampus di UNTAD.
Materi yang disampaikan Prof. Anang menjadi bagian penting dalam workshop yang diarahkan untuk memperkuat sinergi UNTAD dengan berbagai mitra. Kemitraan tersebut mencakup pemerintah, dunia usaha, dunia industri, lembaga pendidikan, serta organisasi masyarakat dalam mendukung penyelenggaraan pembelajaran di luar program studi.
Dalam paparannya, Prof. Anang mengawali pembahasan dengan mengangkat spirit Kampus Berdampak dan perkembangan praktik baik yang telah dilakukan UNTAD. Menurut materi yang disampaikan, kemitraan perlu ditempatkan sebagai instrumen strategis untuk memperluas ruang belajar mahasiswa sekaligus meningkatkan relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
Prof. Anang juga menjelaskan bahwa program mobilitas mahasiswa merupakan salah satu strategi UNTAD dalam memperluas pengalaman belajar mahasiswa. Melalui kerja sama antara universitas, fakultas atau lembaga, program studi, dan mitra, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mengikuti berbagai aktivitas pembelajaran di luar lingkungan program studi.
Bentuk kegiatan tersebut cukup beragam, mulai dari pertukaran pelajar, magang, penelitian, bina desa, asistensi mengajar, hingga kegiatan kewirausahaan. Berbagai bentuk pembelajaran tersebut dirancang agar mahasiswa dapat memperoleh pengalaman yang lebih dekat dengan realitas lapangan.
Menurut Prof. Anang, pembelajaran luar kampus juga menjadi bagian dari upaya mengurangi kesenjangan antara pendidikan tinggi dengan kondisi nyata di lapangan. Dunia industri, dunia usaha, pemerintah, lembaga masyarakat, sekolah, dan perguruan tinggi mitra menjadi lingkungan penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi akademik maupun nonakademik.
Ia juga memaparkan hasil survei mengenai manfaat pembelajaran luar kampus. Berdasarkan data yang disampaikan, kegiatan tersebut memberikan nilai positif terhadap peningkatan kompetensi soft skill dan hard skill mahasiswa, percepatan studi, pencapaian target pembelajaran, kesiapan memasuki dunia kerja, serta kepuasan pengguna, dengan rata-rata penilaian seluruh indikator berada di atas 90 persen.
Meski demikian, Prof. Anang tidak mengabaikan berbagai tantangan dalam implementasi program tersebut. Ia menyoroti pentingnya komitmen untuk bertransformasi, kesiapan kurikulum dan sistem akademik, kualitas kerja sama, serta penyusunan rencana aktivitas yang terprogram dan matang agar kemitraan benar-benar menghasilkan pembelajaran yang bermakna.
Dari sisi kelembagaan, Prof. Anang juga mengaitkan program pembelajaran luar kampus dengan peluang pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) UNTAD. Beberapa aspek yang berpotensi diperkuat melalui program tersebut antara lain efisiensi edukasi, lulusan yang langsung bekerja atau melanjutkan studi, mahasiswa yang mengikuti pembelajaran di luar program studi atau berprestasi, serta keterlibatan dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).
Workshop tersebut juga menghadirkan mitra UNTAD untuk berbagi pengalaman mengenai implementasi kerja sama dalam kerangka Kampus Berdampak. Perwakilan Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Sulawesi Tengah, Inkubator Bisnis Kota Palu, SMP Negeri Model Terpadu Madani Palu, dan Pemerintah Desa Limboro memaparkan praktik kerja sama dalam bidang magang, kewirausahaan, asistensi mengajar, dan bina desa.
Kehadiran para mitra tersebut memperlihatkan bahwa program mobilitas mahasiswa tidak hanya menjadi agenda internal perguruan tinggi. Program ini dikembangkan melalui interaksi langsung dengan berbagai institusi dan lingkungan masyarakat sehingga pengalaman belajar mahasiswa dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing mitra.
Workshop kemudian menghasilkan sejumlah tindak lanjut konkret. Pada sesi penutupan dilakukan penandatanganan tiga Memorandum of Agreement (MoA), 41 kerja sama implementasi kurikulum, serta dua nota kesepahaman dengan berbagai mitra yang telah siap menjalankan kerja sama. Sejumlah program studi dan mitra lainnya juga melanjutkan pembahasan draf kerja sama sebelum implementasi kurikulum berjalan.
Keterlibatan Prof. Anang dalam workshop tersebut memperkuat posisi akademisi UNTAD dalam mendorong transformasi pembelajaran berbasis kemitraan. Melalui pemaparan praktik baik dan pengalaman UNTAD, forum tersebut tidak hanya menjadi ruang berbagi gagasan, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan kerja sama yang dapat diimplementasikan dalam aktivitas pembelajaran mahasiswa.
Kegiatan yang diselenggarakan Pusat Mobilitas Mahasiswa Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNTAD tersebut pada akhirnya menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem Kampus Berdampak. Melalui kemitraan yang terencana dan pembelajaran yang lebih dekat dengan kebutuhan nyata, UNTAD terus mendorong agar pengalaman mahasiswa di luar kampus memberikan manfaat bagi pengembangan kompetensi mahasiswa sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat.

