Guru Besar UNTAD Paparkan Hilirisasi Riset Matematika dalam Mitigasi Bencana

0
20

Jember, 13 Juni 2026–Guru Besar Universitas Tadulako, Prof. Dr. Ir. I Wayan Sudarsana, M.Eng., menegaskan pentingnya hilirisasi hasil riset matematika dan teknik dalam mendukung upaya mitigasi bencana di Indonesia. Gagasan tersebut disampaikannya sebagaii salah seorang keynote speaker melalui makalah berjudul “Pengembangan Model Liquefaction Severity Index Berbasis Logika Fuzzy: Hilirisasi Riset Matematika untuk Kota Tangguh Bencana” dalam Seminar Nasional Matematika, Geometri, Statistika, dan Komputasi (SeNa-MaGeStiK) 2026.

Dalam forum ilmiah tersebut, Prof. Wayan menyoroti perlunya transformasi hasil-hasil penelitian akademik menjadi instrumen yang dapat dimanfaatkan secara langsung dalam pengambilan keputusan pembangunan daerah, khususnya di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi. Menurutnya, salah satu tantangan utama dalam mitigasi bencana adalah bagaimana menerjemahkan data dan hasil penelitian yang kompleks menjadi informasi yang mudah dipahami oleh pemerintah daerah, perencana wilayah, maupun masyarakat.

Melalui penelitian yang dikembangkannya, Prof. Wayan menawarkan model Liquefaction Severity Index (LSI) berbasis logika fuzzy sebagai pendekatan baru dalam mengidentifikasi tingkat kerentanan suatu wilayah terhadap fenomena likuefaksi. Pendekatan ini memungkinkan berbagai variabel geoteknik dan kebencanaan yang bersifat tidak pasti dapat diolah secara lebih komprehensif. Ia menjelaskan bahwa logika fuzzy memiliki keunggulan dalam mengakomodasi ketidakpastian data yang sering dijumpai dalam kajian kebencanaan. Dengan demikian, tingkat risiko likuefaksi dapat dipetakan secara lebih realistis dibandingkan pendekatan konvensional yang cenderung menggunakan batas-batas klasifikasi yang kaku.

Pengembangan model tersebut memiliki relevansi yang sangat kuat bagi Indonesia sebagai negara yang berada pada kawasan cincin api dunia (ring of fire) dan memiliki banyak daerah dengan tingkat kerawanan gempa bumi yang tinggi. Bagi Sulawesi Tengah, penelitian tersebut memiliki nilai strategis tersendiri. Pengalaman bencana gempa, tsunami, dan likuefaksi yang melanda Kota Palu dan sekitarnya pada tahun 2018 menunjukkan pentingnya ketersediaan instrumen ilmiah yang mampu mendukung upaya mitigasi dan perencanaan pembangunan berbasis risiko.

Prof. Wayan menilai bahwa hasil penelitian tidak seharusnya berhenti pada publikasi ilmiah semata, melainkan perlu dihilirisasikan menjadi model, perangkat analisis, maupun sistem pendukung keputusan yang dapat digunakan oleh para pemangku kepentingan. Menurutnya, pembangunan kota tangguh bencana membutuhkan kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Dalam konteks tersebut, perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai penyedia pengetahuan dan inovasi yang berbasis bukti ilmiah.

Ia juga menekankan bahwa pemanfaatan teknologi komputasi dan kecerdasan dalam pemodelan risiko bencana akan menjadi kebutuhan yang semakin penting di masa depan. Kemampuan memprediksi tingkat kerentanan suatu wilayah secara lebih akurat akan membantu pemerintah dalam menyusun kebijakan mitigasi yang lebih efektif.

Partisipasi Prof. Wayan dalam forum ilmiah nasional tersebut sekaligus menunjukkan kontribusi Universitas Tadulako dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang berorientasi pada penyelesaian persoalan nyata masyarakat. Melalui berbagai riset kebencanaan yang dikembangkan, Untad terus memperkuat perannya sebagai pusat kajian dan inovasi di kawasan timur Indonesia.

Melalui makalah yang dipresentasikannya, Prof. Wayan berharap hasil penelitian mengenai model Liquefaction Severity Index berbasis logika fuzzy dapat menjadi salah satu referensi ilmiah dalam pengembangan sistem mitigasi bencana yang lebih adaptif, sekaligus mendukung terwujudnya kota-kota yang aman, tangguh, dan berkelanjutan di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here