Guru Besar UNTAD Berbagi Strategi Pengembangan Kurikulum OBE

0
86

Palu, 02 Agustus 2026– Guru Besar Universitas Tadulako (UNTAD), Prof. Anang Wahid Muhammad Diah, M.Si., Ph.D., CIT, CIIQA, kembali berkontribusi dalam pengembangan pendidikan tinggi melalui keterlibatannya sebagai narasumber Workshop Kurikulum Pendekatan Outcome Based Education (OBE) di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Palu (FKIP Unismuh Palu), 1 Agustus 2026, di Aula Rektorat Unismuh Palu.

Workshop tersebut mengangkat tema “Membangun Kurikulum yang Outcome Based Education untuk Lulusan Kompeten, Adaptif, dan Berdaya Saing Global”. Kegiatan diikuti pimpinan dan dosen FKIP Unismuh Palu, khususnya dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, PAUD, Pendidikan Nonformal, dan Ilmu Keolahragaan, serta melibatkan mitra, alumni, mahasiswa, dan tenaga kependidikan.

Kegiatan dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik Unismuh Palu, Dr. Sudirman, S.K.M., M.Kes., dan diawali sambutan Dekan FKIP, Dr. Ernitasari Mulyadi, Bach.BP., M.Pd. Pimpinan Unismuh Palu menekankan pentingnya evaluasi dan restrukturisasi kurikulum untuk memastikan kesesuaiannya dengan pendekatan OBE, pembelajaran di luar program studi, serta tuntutan para pemangku kepentingan.

Prof. Anang mengawali paparannya dengan mengajak peserta melihat perubahan paradigma pendidikan tinggi. Menurutnya, transformasi pendidikan membutuhkan perubahan mindset para pengelola perguruan tinggi, termasuk program studi dan dosen sebagai ujung tombak yang memberikan pengalaman belajar kepada mahasiswa.

Ia mengaitkan pengembangan kurikulum dengan semangat Kampus Berdampak. Perguruan tinggi, menurutnya, tidak cukup hanya menjalankan fungsi transfer of knowledge, tetapi juga perlu memperkuat pengembangan keilmuan, riset, hilirisasi, serta dampaknya terhadap kehidupan sosial, ekonomi, masyarakat, dan lingkungan secara terukur.

Dalam konteks tersebut, Prof. Anang mendorong FKIP Unismuh Palu untuk memiliki kurikulum yang adaptif, inovatif, dan kolaboratif. Kurikulum perlu dirancang agar mampu menjawab perubahan kebutuhan masyarakat sekaligus mempersiapkan lulusan yang memiliki kompetensi dan daya saing.

Pada sesi inti, Prof. Anang mengajak setiap program studi untuk secara langsung mengevaluasi penerapan pendekatan OBE dalam kurikulum masing-masing. Pembahasan dimulai dari esensi kurikulum, pemahaman terhadap OBE, tahapan pengembangan, hingga pentingnya visi keilmuan sebagai rujukan dalam penyusunan kurikulum.

Menurut Prof. Anang, pengembangan kurikulum berbasis luaran harus dilakukan secara sistematis. Tahapannya mencakup evaluasi kurikulum yang berjalan, penyusunan dokumen kurikulum, review dan perbaikan, pelaksanaan, serta evaluasi dan tindak lanjut.

Proses tersebut juga harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Stakeholder internal meliputi pimpinan, dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan, sedangkan stakeholder eksternal mencakup alumni, pengguna lulusan, asosiasi program studi atau profesi, serta para pakar.

Prof. Anang juga mengingatkan bahwa kurikulum harus memenuhi sejumlah karakteristik penting, antara lain sesuai dengan level KKNI, memiliki struktur yang koheren dalam pencapaian CPL, mutakhir, memiliki ciri khusus program studi, fleksibel, serta memberikan ruang kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman belajar di luar program studi.

Dalam diskusi, salah satu perhatian peserta adalah bagaimana pembelajaran di luar program studi dapat difasilitasi dan ditempatkan secara tepat dalam struktur kurikulum. Konsep tersebut merupakan pengembangan dari pengalaman Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), termasuk melalui peluang pembelajaran berbasis microcredential.

Prof. Anang juga menekankan pentingnya mahasiswa memahami minat dan arah cita-cita sejak masa studi. Kesempatan belajar di luar program studi dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kompetensi, memperluas pengalaman, dan mempersiapkan mahasiswa menjadi lulusan yang lebih kompetitif.

Pembahasan juga berkembang pada masukan alumni dan stakeholder mengenai kebutuhan keterampilan di dunia kerja. Pengalaman mahasiswa selama mengikuti pembelajaran perlu memiliki relevansi dengan perkembangan kebutuhan pekerjaan sehingga kurikulum tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi benar-benar menjadi instrumen pembentukan kompetensi lulusan.

Keterlibatan Prof. Anang dalam workshop tersebut memperlihatkan kiprah akademisi UNTAD dalam memberikan kontribusi terhadap pengembangan mutu pendidikan tinggi di perguruan tinggi lain. Melalui pengalaman dan gagasan yang dibagikannya, forum tersebut menjadi ruang pertukaran pengetahuan sekaligus upaya memperkuat implementasi kurikulum berbasis luaran.

Workshop ini pada akhirnya menempatkan kurikulum sebagai instrumen strategis dalam menghasilkan lulusan yang kompeten, adaptif, dan berdaya saing global. Bagi FKIP Unismuh Palu, masukan dari Prof. Anang menjadi bagian dari proses evaluasi dan penguatan kurikulum agar semakin responsif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan stakeholder, dan tuntutan transformasi pendidikan tinggi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here