Dua Guru Besar UNTAD Berbagi Ilmu dalam Kuliah Tamu di Universitas Andalas

0
96

Padang, 02 Juni 2026 – Dua Guru Besar Universitas Tadulako, Prof. Dr. Ramadanil, M.Si. dan Prof. Dr. Syukur Umar, menjadi narasumber dalam kuliah tamu yang diselenggarakan Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Andalas. Kegiatan akademik yang berlangsung di Ruang Seminar Lantai 2 Jurusan Biologi itu menjadi bagian dari rangkaian kunjungan akademik kedua profesor tersebut ke Universitas Andalas pada 29 Mei–1 Juni 2026.

Kuliah tamu dihadiri dosen, mahasiswa, serta tiga mahasiswa internasional dari University of Western Australia, Perth, yang tengah mengikuti program magang di Jurusan Biologi Universitas Andalas. Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang menjadikan forum tersebut sebagai ruang pertukaran gagasan ilmiah yang berlangsung dinamis.

Kegiatan dimoderatori oleh Prof. Samsuardi, yang memperkenalkan kedua guru besar Universitas Tadulako sebagai akademisi dengan pengalaman panjang dalam bidang keanekaragaman hayati dan pengelolaan sumber daya alam. Kehadiran keduanya diharapkan dapat memperkaya wawasan peserta mengenai isu-isu lingkungan yang menjadi perhatian global.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Ramadanil membawakan materi mengenai biodiversitas kawasan ultramafik. Ia menjelaskan bahwa kawasan ultramafik Sulawesi merupakan salah satu ekosistem unik yang memiliki tingkat endemisitas flora sangat tinggi, sehingga menjadi laboratorium alam yang penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus konservasi keanekaragaman hayati.

Menurut Prof. Ramadanil, karakteristik tanah ultramafik yang mengandung unsur logam tinggi telah mendorong terbentuknya berbagai spesies tumbuhan yang mampu beradaptasi secara khusus. Kondisi tersebut menjadikan kawasan ultramafik memiliki nilai ilmiah yang sangat tinggi dan perlu mendapat perhatian dalam upaya pelestarian lingkungan.

Sementara itu, Prof. Syukur Umar menyampaikan materi mengenai kehutanan berkelanjutan dalam perspektif akademik. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa pengelolaan hutan harus mampu menyeimbangkan aspek konservasi, pemanfaatan sumber daya alam, dan kepentingan pembangunan sehingga manfaat ekologis maupun ekonomi dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Prof. Syukur menjelaskan bahwa pendekatan ilmiah menjadi landasan penting dalam merumuskan kebijakan pengelolaan hutan. Melalui hasil-hasil penelitian, perguruan tinggi dapat memberikan rekomendasi berbasis bukti (evidence-based policy) untuk mendukung pengelolaan sumber daya alam yang lebih efektif dan bertanggung jawab.

Materi yang disampaikan kedua guru besar tersebut saling melengkapi. Biodiversitas, konservasi, dan kehutanan berkelanjutan diposisikan sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam mendukung pembangunan nasional yang berwawasan lingkungan. Sesi diskusi berlangsung sangat interaktif. Berbagai pertanyaan diajukan peserta mengenai biodiversitas kawasan Wallacea, tantangan konservasi ekosistem ultramafik, hingga pengelolaan sumber daya air dengan mengambil contoh kasus Danau Maninjau di Sumatera Barat. Antusiasme tersebut menunjukkan tingginya perhatian kalangan akademisi terhadap isu-isu lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Kehadiran tiga mahasiswa internasional dari University of Western Australia turut memperkaya diskusi. Pertukaran pandangan antara akademisi Indonesia dan peserta internasional memberikan perspektif yang lebih luas mengenai tantangan konservasi dan pengelolaan sumber daya alam di berbagai negara.

Bagi Universitas Tadulako, keterlibatan Prof. Ramadanil dan Prof. Syukur Umar dalam kuliah tamu ini merupakan bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi dalam memperkuat jejaring akademik nasional sekaligus menyebarluaskan hasil-hasil kajian ilmiah kepada komunitas akademik yang lebih luas. Kuliah tamu tersebut juga membuka peluang kerja sama yang lebih erat antara Universitas Tadulako dan Universitas Andalas, baik dalam bidang penelitian, publikasi ilmiah, pertukaran akademisi, maupun pengembangan program kolaboratif di bidang biodiversitas, kehutanan, dan konservasi sumber daya alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here