Pelopor menuju Unggul, Tangguh & Adaptif | dgb@untad.ac.id
Berita Monday, 02 November 2026 Oleh: Admin DGB

Paten dan Komersialisasi Inovasi, Prof. Sahrul Bawa Pengalaman UNTAD ke Forum Nasional

Palu, 02 November 2026– Guru Besar Universitas Tadulako (UNTAD), Prof. Dr. Sahrul Saehana, M.Si., tampil sebagai salah satu narasumber dalam Webinar Road to Forum Bisnis Paten Indonesia (FBPI) 2026 yang diselenggarakan Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sulawesi Tengah, Senin, 2 November 2026. Dalam kegiatan bertema “Paten Penggerak Ekonomi Kerakyatan: Dari Inovasi Daerah Menuju Komersialisasi Nasional” tersebut, Prof. Sahrul membagikan pengalaman dan perspektif akademiknya mengenai perjalanan invensi, pelindungan paten, hingga kesiapan hasil penelitian untuk dikomersialkan.

Dalam webinar yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan disiarkan melalui kanal YouTube Kemenkum Sulawesi Tengah itu, Prof. Sahrul membawakan materi berjudul “Perjalanan Invensi, Pelindungan Paten, dan Kesiapan Komersialisasi”. Materi tersebut menyoroti pentingnya menghubungkan kegiatan penelitian dan pengembangan inovasi dengan pelindungan kekayaan intelektual serta pemanfaatan hasil penelitian secara nyata.

Kehadiran Prof. Sahrul dalam forum tersebut menjadi representasi kontribusi akademisi UNTAD dalam mendorong pemanfaatan hasil riset perguruan tinggi. Ia tidak hanya membahas pentingnya menghasilkan invensi, tetapi juga menunjukkan bagaimana inovasi yang dikembangkan melalui kegiatan akademik dapat diarahkan menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi.

Salah satu gagasan utama yang disampaikan Prof. Sahrul adalah pentingnya mengembangkan pembelajaran dan inovasi berbasis potensi lokal. Menurut materi yang dipaparkannya, sains akan lebih bermakna apabila dikaitkan dengan lingkungan dan kehidupan masyarakat setempat, seperti energi surya di Sulawesi Tengah, pengelolaan wilayah pesisir dan kelautan, keanekaragaman hayati, serta pertanian dan pangan lokal.

Dalam konteks tersebut, potensi daerah dapat menjadi laboratorium pembelajaran sekaligus sumber lahirnya inovasi. Pendekatan ini membuka peluang bagi akademisi untuk menghasilkan produk yang tidak hanya relevan dengan kebutuhan pendidikan, tetapi juga berangkat dari sumber daya dan kearifan lokal.

Prof. Sahrul kemudian menjelaskan proses lahirnya inovasi melalui pengembangan media dan alat peraga kontekstual. Inovasi pembelajaran tersebut dirancang untuk membantu peserta didik memahami konsep fisika yang abstrak melalui eksperimen dan pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics). Pengembangannya juga diarahkan untuk melatih keterampilan proses sains, berpikir kritis, kreativitas, rekayasa, kolaborasi, dan komunikasi.

Dua produk inovasi yang menjadi contoh dalam paparannya adalah POMOREKA-FTO dan PATABAKU. Keduanya memperlihatkan bagaimana konsep fisika dapat dikembangkan menjadi media pembelajaran yang mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dengan potensi dan konteks lokal.

POMOREKA-FTO merupakan media pembelajaran berbasis kaca FTO (Fluorine-doped Tin Oxide) yang berfokus pada konsep listrik, hambatan, hubungan arus dan tegangan (I-V), material transparan-konduktif, serta pengantar teknologi sel surya. Media ini menawarkan aktivitas pembelajaran berupa observasi, pengukuran, analisis data I-V, dan pengaitan konsep dengan teknologi sel surya.

Sementara itu, PATABAKU merupakan Peraga Alat Gravitasi Bumi berbasis kearifan lokal Sulawesi Tengah. Produk ini digunakan untuk mempelajari konsep gravitasi dan gerak benda melalui skenario pembelajaran inkuiri, mulai dari membuat prediksi, melakukan eksperimen, mengolah data, hingga menarik kesimpulan. Dengan demikian, PATABAKU menghubungkan pembelajaran fisika dengan lingkungan dan budaya lokal.

Lebih lanjut, Prof. Sahrul menjelaskan bahwa pengembangan inovasi tidak berhenti pada tahap pembuatan prototipe. Produk perlu melalui proses finalisasi, validasi ahli, uji keterbacaan, uji efektivitas, serta pengembangan modul dan lembar kerja peserta didik (LKPD). Tahapan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan kualitas dan kesiapan produk sebelum memasuki tahap pelindungan kekayaan intelektual dan pemanfaatan yang lebih luas.

Dalam paparannya, ia juga menunjukkan bukti pelindungan kekayaan intelektual atas hasil inovasi. Salah satu contoh yang ditampilkan adalah paten berjudul “Alat Bantu Pembelajaran Konsep Gerak Dilengkapi Pewaktu Otomatis”, dengan nomor paten IDS000008891 dan tanggal pemberian 3 September 2024. Selain itu, ia memperlihatkan proses permohonan paten atas perangkat simulasi konversi energi cahaya menjadi energi listrik sebagai media pembelajaran berbasis STEAM.

Aspek komersialisasi menjadi bagian penting lainnya dalam materi Prof. Sahrul. Ia menekankan bahwa hasil penelitian yang memiliki kualitas baik dapat dikomersialkan untuk kepentingan pembelajaran. Dengan cara ini, hasil riset tidak hanya menghasilkan publikasi atau berhenti sebagai prototipe, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk yang digunakan oleh masyarakat.

Sebagai contoh konkret, Prof. Sahrul menunjukkan bahwa produk PATABAKU telah dipasarkan melalui platform SIPLah Gramedia. Dalam materi presentasinya, produk tersebut ditampilkan sebagai alat peraga fisika yang tersedia di pasar pengadaan kebutuhan pendidikan, dengan harga yang tercantum sebesar Rp6.000.000.

Menurutnya, komersialisasi hasil penelitian juga memiliki dimensi pemberdayaan, khususnya dalam membuka peluang kerja bagi alumni. Pengembangan produk, produksi, pemasaran, dan distribusi dapat menciptakan aktivitas ekonomi yang melibatkan sumber daya manusia, sehingga manfaat penelitian dapat melampaui lingkungan perguruan tinggi.

Prof. Sahrul menegaskan bahwa ukuran keberhasilan riset tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah publikasi yang dihasilkan. Keberhasilan juga perlu dilihat dari sejauh mana invensi memperoleh pelindungan, dimanfaatkan masyarakat, dan mampu menciptakan nilai ekonomi melalui proses komersialisasi.

Webinar ini juga menghadirkan Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual, Hermansyah Siregar, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sulawesi Tengah, Hendrik Pagiling, serta Andi Nur B. Lamakarate selaku Pimpinan PT Panggona Povia Bulava. Diskusi dipandu oleh Fitriana Anas sebagai moderator. Kehadiran narasumber dari unsur pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha memberikan perspektif yang saling melengkapi mengenai pengembangan dan pemanfaatan paten.

Partisipasi Prof. Sahrul dalam kegiatan tersebut memperlihatkan peran akademisi UNTAD dalam memperkuat ekosistem inovasi daerah. Pengalaman pengembangan POMOREKA-FTO dan PATABAKU menjadi contoh bahwa penelitian perguruan tinggi dapat menghasilkan invensi yang memperoleh pelindungan kekayaan intelektual, dimanfaatkan dalam pembelajaran, dan diarahkan menuju komersialisasi.

Melalui forum Road to FBPI 2026, Prof. Sahrul menyampaikan pesan penting bahwa penelitian perguruan tinggi perlu memiliki perjalanan yang lebih panjang daripada sekadar menghasilkan publikasi ilmiah. Invensi harus dikembangkan, dilindungi, diuji pemanfaatannya, dan dipersiapkan untuk memasuki pasar agar ilmu pengetahuan dan inovasi benar-benar memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi masyarakat.