Palu, 24 Mei 2026_Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golongan Karya (Golkar) Provinsi Sulawesi Tengah menggelar kegiatan pendidikan politik bertema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua” di Aula DPD Golkar Sulteng, Palu, Sabtu (23/5/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan tokoh pendidikan, salah satunya Guru Besar Universitas Tadulako, Prof. Dr. Sahrul Saehana, M.Si, yang tampil membawakan materi mengenai penguatan partisipasi pemilih pemula dalam menyongsong Pemilu 2029. Dalam forum itu, Prof. Sahrul menekankan bahwa pemilih pemula memiliki posisi strategis dalam pembangunan demokrasi Indonesia. Menurutnya, kelompok usia muda tidak hanya menjadi pelengkap dalam proses pemilu, tetapi juga penentu arah kualitas demokrasi di masa depan.
Ia menjelaskan bahwa pemilu merupakan fondasi utama demokrasi yang sehat. Karena itu, keterlibatan generasi muda perlu diperkuat melalui pendidikan politik yang inklusif, kritis, dan berbasis literasi digital. Dalam paparannya, Prof. Sahrul mengungkapkan bahwa jumlah pemilih di Sulawesi Tengah pada Pemilu 2024 mencapai sekitar 2,23 juta orang. Dari jumlah tersebut, estimasi pemilih pemula pada Pemilu 2029 diperkirakan berada pada kisaran 220 hingga 330 ribu orang.
“Pemilih pemula membawa semangat baru, tetapi mereka juga menghadapi tantangan seperti minimnya pengetahuan politik, apatisme, dan pengaruh disinformasi,” ujar Prof. Sahrul dalam presentasinya.
Wakil Dekan Bidang Akademik FKIP Universitas Tadulako itu juga menyoroti pentingnya membangun budaya politik yang sehat di lingkungan siswa, mahasiswa, dan kalangan budayawan. Menurutnya, mahasiswa memiliki posisi sebagai kelompok kritis yang mampu mengawal isu kebangsaan, sementara budayawan berperan sebagai agen moral melalui seni dan tradisi lokal.
Untuk memperkuat partisipasi pemilih pemula, Prof. Sahrul menawarkan sejumlah strategi konkret. Di antaranya integrasi pendidikan demokrasi dalam kurikulum sekolah, simulasi pemilu di kampus, pelatihan cek fakta untuk melawan hoaks, hingga penguatan kampanye kreatif melalui media sosial. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara KPU, sekolah, perguruan tinggi, komunitas seni, dan organisasi masyarakat melalui program seperti “Demokrasi Goes to School and Campus.”
Dalam kegiatan tersebut, Prof. Sahrul turut memaparkan berbagai bentuk kegiatan yang dinilai efektif untuk meningkatkan kesadaran politik generasi muda, seperti festival demokrasi, lomba debat, kelas inspirasi, gerakan relawan pemilih pemula, hingga produksi konten kreatif berupa video pendek dan podcast edukasi politik.
Menurut Prof. Sahrul, perkembangan teknologi digital harus dimanfaatkan secara positif dalam pendidikan politik. Ia menilai generasi muda merupakan kelompok yang paling aktif di media sosial sehingga pendekatan digital menjadi sangat penting untuk meningkatkan kualitas partisipasi demokrasi. Kegiatan pendidikan politik tersebut juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran demokrasi di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda menjelang Pemilu 2029.
Kehadiran Prof. Sahrul sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk kontribusi akademisi Universitas Tadulako dalam mendukung penguatan demokrasi dan pendidikan politik di Sulawesi Tengah. Penugasan resmi terhadap Prof. Sahrul juga dikeluarkan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako melalui surat tugas dekan FKIP Untad.
Di akhir pemaparannya, Prof. Sahrul mengingatkan bahwa sukses Pemilu 2029 tidak hanya diukur dari tingginya angka partisipasi masyarakat, tetapi juga dari kualitas demokrasi yang dihasilkan. “Suara pemilih pemula adalah suara masa depan bangsa,” demikian pesan penutup yang disampaikannya dalam forum pendidikan politik tersebut.

