Palu, 14 Juni 2026– Guru Besar Universitas Tadulako, Prof. Dr. Ramadanil Pitopang, M.Si, menegaskan pentingnya konservasi ekosistem ultramafik Sulawesi sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati bernilai global. Penegasan tersebut disampaikannya dalam webinar bertajuk “Bincang-Bincang Biodiversitas di Jantungnya Wallacea” yang diselenggarakan Unit Penunjang Akademik Sumber Daya Hayati Sulawesi (UPA SDHS) Universitas Tadulako, Kamis (13/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung secara daring itu diikuti lebih dari 140 peserta yang berasal dari berbagai institusi, profesi, dan latar belakang keilmuan. Webinar menjadi ruang diskusi ilmiah untuk memperdalam pemahaman tentang kekayaan biodiversitas Sulawesi yang dikenal sebagai salah satu kawasan paling unik di dunia.
Pulau Sulawesi menempati posisi penting dalam kawasan Wallacea, yakni zona peralihan antara Benua Asia dan Australia yang memiliki karakter biogeografi khas. Kawasan ini dikenal memiliki tingkat endemisitas yang tinggi, baik pada flora maupun fauna, sehingga menjadi salah satu laboratorium alam yang sangat berharga bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Dalam webinar tersebut, Prof. Ramadanil tampil sebagai salah satu narasumber utama bersama Dr. Fadly Y. Tantu, Associate Professor bidang Akuakultur Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Tadulako. Keduanya membahas aspek biodiversitas Sulawesi dari perspektif yang berbeda namun saling melengkapi.
Sebagai ahli taksonomi tumbuhan dan pendiri Herbarium Celebense (CEB), Prof. Ramadanil membawakan materi berjudul “Flora pada Tanah Ultramafik di Sulawesi.” Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa ekosistem ultramafik merupakan habitat yang unik karena memiliki karakteristik tanah dengan kandungan logam berat yang tinggi dan tingkat kesuburan yang relatif rendah. Namun justru kondisi ekstrem tersebut melahirkan berbagai spesies tumbuhan yang mampu beradaptasi secara khusus.
Menurut Prof. Ramadanil, banyak spesies tumbuhan endemik Sulawesi hanya dapat ditemukan pada kawasan ultramafik. Keberadaan spesies-spesies tersebut menjadikan ekosistem ini memiliki nilai konservasi yang sangat tinggi dan tidak dapat digantikan oleh ekosistem lain. Ia menjelaskan bahwa kawasan ultramafik Sulawesi menyimpan kekayaan hayati yang tidak hanya penting bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia. Berbagai jenis tumbuhan endemik yang hidup di habitat tersebut merupakan hasil proses evolusi yang berlangsung selama jutaan tahun. Karena itu, Prof. Ramadanil mengingatkan bahwa tekanan terhadap kawasan ultramafik, baik akibat perubahan penggunaan lahan maupun aktivitas eksploitasi sumber daya alam, perlu menjadi perhatian serius semua pihak.
Sementara itu, narasumber kedua, Dr. Fadly Y. Tantu, membawakan materi mengenai “Mengenal Danau Purba di Sulawesi.” Ia menjelaskan keunikan ekosistem perairan tawar Sulawesi yang juga menyimpan berbagai spesies endemik serta memiliki nilai ekologis dan ilmiah yang tinggi.
Webinar dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Tadulako, Prof. Dr. Ir. Amar, S.T., IPU., ASEAN Eng. Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa biodiversitas Sulawesi merupakan bagian penting dari identitas dan kekayaan alam Sulawesi Tengah yang perlu dipahami, dikaji, dan dilestarikan secara berkelanjutan. Rektor juga menilai bahwa kajian biodiversitas memiliki relevansi strategis bagi pengembangan visi dan misi Universitas Tadulako sebagai perguruan tinggi yang berada di kawasan dengan kekayaan sumber daya hayati yang luar biasa.
Pada akhir kegiatan, para narasumber dan peserta menyimpulkan bahwa konservasi ekosistem ultrabasik atau ultramafik Sulawesi harus menjadi perhatian bersama. Selain berfungsi sebagai habitat utama bagi ratusan spesies tumbuhan dan hewan endemik, ekosistem ini juga berperan penting dalam menjaga fungsi ekologis, melindungi warisan evolusi, mempertahankan potensi sumber daya genetik, serta menjamin keberlanjutan jasa ekosistem bagi generasi mendatang.

