Bungku Tengah, 05 Juni 2026 – Pemerintah Kabupaten Morowali mulai menyusun arah pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi daerah melalui penyelenggaraan Seminar Awal Penyusunan Rencana Induk dan Peta Jalan Pemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Daerah (RIPJPID) yang berlangsung di Aula Bappelitbangda Kabupaten Morowali, Kamis (4/6/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kabupaten Morowali tersebut menjadi langkah awal dalam menyiapkan dokumen strategis yang akan menjadi pedoman pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi daerah untuk beberapa tahun ke depan.
Seminar dibuka oleh Wakil Bupati Morowali, Iriane Iliyas, yang menegaskan bahwa penyusunan RIPJPID bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif sebagai tindak lanjut regulasi nasional, tetapi merupakan kebutuhan strategis dalam mendukung pembangunan daerah berbasis pengetahuan dan inovasi. Menurutnya, keberadaan dokumen RIPJPID sangat penting untuk memastikan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diarahkan secara sistematis guna mendukung pelayanan publik, pertumbuhan ekonomi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat Morowali.
Penyusunan RIPJPID sendiri merupakan implementasi dari Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2021 tentang Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang mendorong pemerintah daerah menyusun arah kebijakan riset dan inovasi sesuai karakteristik serta kebutuhan wilayah masing-masing. Dalam kegiatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Morowali menggandeng Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako (FEB Untad) sebagai mitra akademik. Kehadiran perguruan tinggi dinilai penting untuk memastikan proses penyusunan dokumen didasarkan pada pendekatan ilmiah dan kebutuhan pembangunan daerah yang terukur.
Dua guru besar FEB Untad, yakni Prof. Dr. rer.pol. Patta Tope, S.E. dan Prof. Dr. Muhammad Yunus Kasim, S.E., M.Si., hadir sebagai narasumber sekaligus tenaga ahli yang memberikan masukan strategis dalam seminar tersebut. Dalam paparannya, Prof. Patta Tope menekankan pentingnya membangun ekosistem riset yang terintegrasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan sektor industri. Menurutnya, kolaborasi antarpemangku kepentingan menjadi kunci agar hasil-hasil penelitian tidak berhenti pada tataran akademik, tetapi dapat diimplementasikan untuk menjawab persoalan pembangunan daerah.
Sementara itu, Prof. Muhammad Yunus Kasim menyoroti aspek tata kelola pembiayaan riset dan inovasi. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi daerah tidak hanya bergantung pada kualitas perencanaan, tetapi juga pada keberpihakan kebijakan anggaran terhadap kegiatan riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia.
Kedua akademisi tersebut menyatakan kesiapan Universitas Tadulako untuk mendampingi Pemerintah Kabupaten Morowali dalam proses penyusunan RIPJPID. Pendampingan tersebut diharapkan dapat menghasilkan dokumen yang tidak hanya memenuhi ketentuan regulasi, tetapi juga relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan industri yang tumbuh pesat di Morowali.
Seminar awal ini dihadiri oleh berbagai unsur pemangku kepentingan, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD), akademisi, pelaku usaha, hingga komunitas ilmiah yang ada di Kabupaten Morowali. Keterlibatan berbagai pihak tersebut menjadi bagian penting dalam menjaring masukan dan aspirasi untuk penyusunan dokumen yang komprehensif.
Hasil seminar akan menjadi bahan utama dalam penyusunan draf RIPJPID Kabupaten Morowali yang ditargetkan rampung pada akhir tahun 2026. Melalui penyusunan peta jalan ini, Morowali diharapkan mampu memperkuat posisinya sebagai daerah yang tidak hanya bertumpu pada sumber daya alam dan industri, tetapi juga berkembang sebagai wilayah yang berbasis ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi sesuai amanat Perpres BRIN.

